Madiun, 5 September 2026 – Gemuruh tepuk tangan dan sorak ribuan penonton memecah khidmat malam di Padepokan Agung Graha Krida Budaya Madiun, Sabtu malam (5/9/2026). Di tengah gelaran puncak peringatan 104 tahun Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), penampilan tari Jaranan “Sentherewe” dari UKM PSHT Komisariat UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung sukses mencuri perhatian dan memukau seluruh hadirin yang memadati lokasi acara.

Direktur Pascasarjana UIN SATU Tulungagung sekaligus Pembina UKM PSHT UIN SATU Tulungagung, Prof. Dr. Ahmad Tanzeh dan Tim Tari Jaranan “Sentherewe” tampil di Graha Krida Budaya PSHT Pusat Madiun tanggal 5 September 2026.
Penampilan yang sarat energi dan nilai budaya ini menjadi salah satu momen paling dinanti dalam rangkaian peringatan hari lahir PSHT ke-104 yang mengusung tema besar “Sinergi Budaya dan Religi di Kota Pendekar” . Tarian dengan gerakan lincah dan dinamis khas Jaranan Sentherewe ini seolah menjadi simbol semangat dan keberanian yang terus hidup di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa UIN SATU Tulungagung.

Penampilan Tari Jaranan “Sentherewe” UKM PSHT UIN Tulungagung di Graha Krida Budaya PSHT Pusat Madiun dalam gelaran puncak peringatan 104 tahun Persaudaraan Setia Hati Terate tanggal 5 September 2026.
Harmoni Budaya dan Akademik
Rombongan dari UIN SATU Tulungagung tidak hanya terdiri dari para penari berbakat. Mereka didampingi langsung oleh Direktur Pascasarjana UIN SATU Tulungagung, Prof. Dr. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I. Sebagai pembina UKM PSHT UIN SATU Tulungagung, Kehadiran beliau menegaskan dukungan penuh dari perguruan tinggi terhadap pelestarian budaya dan kegiatan positif mahasiswa di bidang seni dan bela diri. Turut serta dalam rombongan tersebut, Ketua Komisariat PSHT UIN SATU Tulungagung, Azharu Sani, dan Ketua grup Jaranan Sentherewe, Denta Khrisna. Mereka memimpin langsung pasukan penari yang dengan penuh semangat membawakan tarian tradisional yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dari Kabupaten Tulungagung ini.
Jaranan Sentherewe: Dari Tulungagung untuk Nusantara
Jaranan Sentherewe bukan sekadar tarian biasa. Lahir pada sekitar tahun 1958 di Dukuh Sukorejo, Desa Rejoagung, Tulungagung, kesenian ini tercipta dari kolaborasi dua seniman yang ingin menghadirkan bentuk seni baru yang lebih atraktif dan ekspresif . Nama “Sentherewe” sendiri diambil dari sensasi gatal yang ditimbulkan oleh dua tumbuhan, “senthe” dan “rewe”, yang melambangkan gerakan-gerakan cepat dan lompatan para penari .
Gerakan-gerakan seperti Napak, Sabetan, Ndhegar, hingga Perang yang dibawakan mahasiswa UIN SATU Tulungagung malam itu sangat memukau. Mereka tidak hanya menari, tetapi juga menghidupkan kisah heroik pasukan berkuda Raja Klana Sewandana yang bertempur melawan barong dan jejaplok . Kombinasi gerakan energik, kostum cerah, dan musik pengiring yang harmonis membuat pertunjukan ini terasa sangat hidup dan berkesan.
Pengajian dan Puncak Acara yang Khidmat
Selain dihibur oleh penampilan tari yang spektakuler, para hadirin juga mendapatkan siraman rohani melalui pengajian umum yang disampaikan oleh mubaligh muda berbakat, Gus Dr. Da’i Robbi, M.Ud alumni S3 SI pascasarjana UIN SATU. Suasana religi dan budaya berpadu sempurna dalam peringatan malam itu, sejalan dengan visi PSHT untuk terus bersinergi membangun Madiun sebagai kota wisata religi dan budaya .
Peringatan 104 tahun PSHT ini menjadi momentum penguatan persaudaraan dan kolaborasi antarperguruan pencak silat. Seperti disampaikan Ketua Umum PSHT, Moerdjoko, di tengah acara, PSHT ingin terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjaga nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Penampilan Jaranan Sentherewe dari UIN SATU Tulungagung malam itu telah membuktikan bahwa tradisi dan budaya leluhur tetap relevan dan mampu memikat hati generasi muda. Mereka bukan hanya pelestari, tetapi juga inovator yang membawa nama Tulungagung dan UIN SATU ke panggung nasional.#fix
