X

Memperkuat Soft-Skill: Civitas PDES Mengikuti Program Inovasi, Kajian, & Riset Akademik Ramadhan PTKI

Kontributor:

 Kurikulum Berbasis Cinta

Kegiatan positif dan baik, dilaksanakan di bulan yang sangat baik, menuju Sumber Daya Manusia yang Unggul digelar oleh Sub Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Agama Republik Indonesia. Kegiatan yang dimaksud yaitu Program Inovasi, Kajian, & Riset Akademik Ramadhan yang disingkat dengan kata IKRAR. Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI (Prof. Sahiron) dalam sambutan pembukaannya menjelaskan bahwa IKRAR tahun ini mempunyai distingsi yaitu: (1) tahun ini IKRAR dilaksanakan seminggu 2 kali, tahu kemarin 1 kali; (2) direncanakan menghadirkan narasumber lintas kementerian untuk mengisi acara, sehingga perlu berkomunikasi; (3) menekankan pentingnya program Kementerian Agama RI khususnya “Kurikulum Berbasis Cinta”. Buku babonnya sudah terbit yang dilengkapi dengan ISBN, namun masih dicetak terbatas. Buku ini merupakan ihtiar untuk membentuk karakter anak bangsa dan menciptakan lingkungan yang harmonis.

Pada seri 1 ini mengambil judul “Kurikulum Berbasis Cinta di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI): Membangun Pendidikan Islam Humanis, Transformatif, dan Berdampak”. Keynote Speech: Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag (Direktur Jenderal Pendidikan Islam) dan Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam). Narasumber: Prof. Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Prof. Dr. M. Zainuddin, M.A (Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), dengan moderator dipercayakan kepada dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (Dr. Lailatuz Zuhriyah, M.Fill.I). Acara ini dilaksanakan pada Jum’at, 20 Februari 2026 menggunakan media Zoom Meeting. Peserta kegiatan sebanyak 312 orang delegasi dari civitas akademika PTKI di Indonesia.

Kurikulum Berbasis Cinta, sebuah frasa yang sangat unik dan menarik untuk didalami dan diimplementasikan. Secara kelembagaan Kurikulum Berbasis Cinta ini diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Dasar pertimbangan program PTKI ini yaitu: (1) memperkuat nilai-nilai kebhinekaan dan meningkatkan kualitas pendidikan di Madrasah dan (2) membentuk karakter anak bangsa dan menciptakan lingkungan yang harmonis, perlu diatur panduan KBC. Jadi memang, KBC ini sudah dilaksanakan terutama di lingkungan sekolah/Madrasah baik yang diselanggarakan oleh pemerintah dan madrasah yang diselenggarakn oleh masyarakat.

Tujuan KBC ini yaitu merumuskan secara jelas apa yang ingin dicapai melalui KBC. Ini bisa mencakup penciptaan masyarakat yang lebih damai, inklusif, berkelanjutan, atau individu yang lebih berempati dan bijaksana. Tujuan ini harus spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terikat waktu (SMART). Prof Mustaqim menyampaikan tentang Cinta Ilahi: Relasi Etik Manusia dengan Tuhan. Dalam makalahnya, pria kelahiran Purworejo 1972 ini menjelaskan bahwa KBC adalah gagasan transformasi pendidikan yang dikembangkan dalam ekosistem pendidikan di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia (Madrasah, Pesantren, PTKI dan PTKIN, dan Satuan Pendidikan Keagamaan Lainnya. Inti transformasi pendidikan adalah bahwa pendidikan tidak cukup hanya transfer of knowledge, tetapi harus menjadi transformasi karakter berbasis nilai CINTA dan kasih sayang (rahmah) atau welas asih dalam bahasa Jawa.

Kemudian Prof. Zainuddin dalam makalahnya yang berjudul “Paradigma Kurikulum Berbasis Cinta”. Menurutnya, dunia barat saat ini telah sadar betapa pentingnya pendidikan karakter. Di Amerika, para pendidik, politisi dan orang tua mulai mulai menyadari bahwa pendidikan karakter sangat penting dan dibutuhkan sebagai komponen kunci dalam kurikulum sekolah. Hal ini in line dengan KBC yang orientasinya  kepada Cinta (cinta ilmu, cinta sesama, cinta lingkungan dan cinta semua makhluk Tuhan atau ekosistem).

Untuk memperkuat Soft-Skill, civitas akademika Program Doktor Ekonomi Syariah (PDES) Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan menjadi peserta. Keluarga besar PDES mengucapkan terimakasih kepada Dr. Lailatuz Zuhriyah atas informasi kegiatannya, dan diucapkan terimakasih juga kepada para mahasiswa PDES yang menjadi peserta kegiatan yaitu: Arlinta Dewi, Silachi Agusta, Mohammad Anis Sumadi, Ahmad Khudory, Achmad Luthfi, Adimas Asyngari, Samsul Huda, Muammad Alfan, Moh Syifauddin, Ganda Yulida, Ashlihah dan Mei Santi. Niscaya ilmunya manfaat bagi dirisendiri dan PDES, dan barokah.#

Skip to content