X

Kolaborasi Program Doktor Studi Islam (PDSI) dan Program Doktor Ekonomi Syariah (PDES), Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Menyelenggarakan Pelatihan Multilevel Mixed Methods untuk Memperkuat Hard-Skill Mahasiswa

Kontributor:

Menghadirkan Pembicara Internasional dari Queensland University of Technology, Australia dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, PDSI dan PDES Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menggelar acara International Clinical Methodology dengan judul “Leveraging Multi-level Mixed Methods to Explore ‘Nested Phenomena’ in Islam”. Narasumber (Ulfah Muhayani, M.PP.,Ph.D) dalam kesempatan yang dilaksanakan secara daring tersebut menekankan bahwa yang menjadi ciri utama penelitian Multilevel Mixed-Methods yaitu adanya integrasi pada level discussion atau pembahasan. Teddlie dan Tashakkori (2009) menawarkan penjelasan mendalam tentang desain penelitian metode campuran, merinci struktur dan aplikasinya. Menurut deskripsi mereka, desain penelitian metode campuran multilevel adalah: “Desain multistrand di mana data KUAL [kualitatif] dikumpulkan pada satu tingkat analisis (misalnya, anak) dan data KUAN [kuantitatif] dikumpulkan pada tingkat lain (misalnya, keluarga) secara paralel atau berurutan…. Dalam desain ini, untaian penelitian yang berbeda dikaitkan dengan tingkat analisis yang berbeda.

Kemudian bagaimana cara kerjanya?. Penelitian model ini mengikuti langkah-langkah: (1) Desain Metode Campuran Multilevel; (2) Pengumpulan Data dan (3) Integrasi Data. PENGUMPULAN DATA. Headly dan Plano Clark (2020) menyarankan ada beberapa aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengadopsi desain penelitian metode campuran multilevel. Aspek-aspek tersebut adalah landasan teoritis, sumber data, pengambilan sampel, pengumpulan/pengukuran data, analisis data, dan integrasi data.

Persyaratan utama dalam desain metode campuran multilevel adalah memiliki data yang cukup di semua tingkat yang dianalisis (Hitt dkk., 2007), sehingga strategi pengambilan sampel sangat penting di sini. Headly dan Plano Clark (2020) mengidentifikasi empat strategi pengambilan sampel yang berbeda yang digunakan dalam desain penelitian metode campuran. Strategi-strategi ini meliputi pengambilan sampel identik, di mana peserta untuk satu untaian membentuk subset dari peserta yang digunakan di untaian lain; pengambilan sampel paralel, yang melibatkan peserta yang berbeda dari populasi yang sama untuk setiap untaian; dan pengambilan sampel ganda, yang memilih peserta di berbagai tingkatan atau level dalam kerangka penelitian. Penelitian ini mengadopsi pengambilan sampel bertingkat di mana sampel untuk aspek kualitatif dan kuantitatif “diambil dari berbagai tingkatan penelitian (misalnya, populasi yang berbeda)” (Onwuegbuzie & Collin, 2007, hlm. 292).

Selain itu, prosedur pengumpulan data merupakan komponen penting dari desain penelitian metode campuran multilevel (Headly & Plano Clark, 2020). Prosedur pengumpulan data dalam desain metode campuran multilevel bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik di berbagai tingkatan. Perlu dicatat, data yang dimaksudkan untuk menggambarkan fitur pada satu tingkatan dapat dikumpulkan dari tingkatan lain dan, terkadang, dari beberapa tingkatan (Headly & Plano Clark, 2020). Misalnya, dalam penelitian pendidikan inklusif, guru—yang mewakili tingkat sekolah—dapat memberikan wawasan berharga tentang lingkungan sekolah yang lebih luas, seperti suasana sekolah dan kepemimpinan kepala sekolah, serta elemen spesifik kelas, termasuk gaya mengajar individu dan pilihan kurikulum mereka.

INTEGRASI DATA. Penelitian metode campuran adalah proses yang melibatkan integrasi unsur kuantitatif dan kualitatif untuk mencapai tujuan penelitian. Integrasi metode, pengumpulan data, dan analisis merupakan ciri khas penelitian metode campuran (Creswell dkk. 2004; Woolley, 2009; Yin 2006). Yin (2006) berpendapat bahwa tanpa integrasi tersebut, “metode yang berbeda dapat berjalan paralel, berpotensi menyebabkan banyak studi, dan bukan ‘pencampuran’ metode yang diinginkan yang tersirat dalam penelitian metode campuran” (hlm. 46). Dalam desain penelitian MM multilevel, integrasi tidak hanya melibatkan integrasi metodologi kuantitatif dan kualitatif tradisional; dalam studi M3, integrasi membawa keharusan tambahan. Teknik integrasi untuk MM multilevel digunakan untuk membuat meta-inferensi tentang level dan lintas level (Headley & Plano Clark, 2020). Definisi berbasis literatur tidak menawarkan arahan khusus tentang bagaimana melakukan hal ini. Namun, Bronstein dan Kovacs (2013) menyarankan bahwa teknik integrasi MM yang umum seperti transformasi data Caracelli & Greene (1993), diskusi (Bronstein & Kovacs, 2013) dan tampilan bersama (Clark & ​​Sanders, 2015) dapat digunakan.

Menurut narasumber, pada penelitian kualitatif ditekankan pada aspek interviewnya. Penelitian di Indonesia tidak berangkat dari badan etik yang membuat penelitian kita lolos untuk melakukan penelitian, sehingga perlu dirumuskan untuk membentuk Etical clierent/badan etika. Acara yang menghadirkan peserta mahasiswa internasional dari International Islamic University Malaysia dan juga diikuti oleh mahasiswa PDSI dan PDES ini dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Nopember 2025. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk mengembangkan karir mahasiswa dalam bentuk pelatihan hard-skill yaitu Leveraging Multilevel Mixed-method untuk mendukung penelitian atau disertasi mahasiswa PDSI dan PDES.#

Skip to content