Tulungagung, September 2026 – Kabar membanggakan datang dari Program Studi Magister Aqidah dan Filsafat Islam (S2 AFI) Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung. Setelah melalui rangkaian seleksi yang sangat kompetitif, Dr. H. Ahmad Nurcholis, M.Pd. selaku Ketua Program Studi S2 AFI bersama Tim BABAD (Buku Ajar Bahasa Arab Digital) resmi dinyatakan sebagai Grantee MORA AIR FUND 2026 pada bidang penelitian Bahasa dan Humaniora yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Keberhasilan ini merupakan buah dari kerja keras, dedikasi, dan kolaborasi ilmiah yang telah dipersiapkan secara matang sejak awal. Perjalanan menuju MORA Award 2026 bukanlah proses yang singkat. Proposal penelitian diajukan pada 22 Juni 2026, kemudian dinyatakan lolos seleksi administrasi pada 8 Juli 2026. Selanjutnya, tim berhasil melewati seleksi substansi tahap pertama pada 23 Juli 2026, sebelum akhirnya mengikuti wawancara substansi tahap kedua pada 29–30 Juli 2026 di hadapan dua reviewer yang berasal dari kalangan guru besar dengan kompetensi tinggi di bidangnya. Akhirnya dinyatakan lolos pada hari Kamis, 17 September 2026 melalui SK Sekretaris Jenderal Kementerian Agama No. B-5754/SJ/B.X/PP.04/09/2026.
Dalam sambutan pembukaan wawancara seleksi substansi tahap kedua, Dr. H. Ruchman Basori, M.Ag. menjelaskan bahwa kompetisi MORA AIR FUND tahun 2026 berlangsung sangat ketat. Dari 301 peserta yang berhasil lolos hingga tahap wawancara substansi kedua, hanya 120 peserta terbaik yang akan ditetapkan sebagai penerima MORA Award 2026. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Tim BABAD merupakan capaian akademik yang sangat prestisius dan membanggakan.
Program MORA AIR FUND 2026 merupakan salah satu instrumen strategis Kementerian Agama Republik Indonesia dalam meningkatkan mutu penelitian di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Program ini bertujuan memperkuat budaya riset, menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah bereputasi internasional, memperluas jejaring kolaborasi akademik, serta mendorong lahirnya produk-produk penelitian yang mampu menjawab berbagai tantangan pendidikan, sosial, dan perkembangan teknologi di era digital.
Menurut Dr. H. Ahmad Nurcholis, M.Pd., keberhasilan memperoleh MORA Award bukan sekadar prestasi individual, melainkan amanah besar untuk terus menghasilkan karya ilmiah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia pendidikan.
“MORA Award menjadi motivasi bagi para dosen untuk terus meningkatkan kualitas penelitian, memperkuat budaya akademik, menghasilkan inovasi yang bermanfaat, serta mendukung peningkatan mutu dan akreditasi program studi maupun institusi. Penelitian yang berkualitas akan melahirkan publikasi bereputasi, memperluas kerja sama internasional, sekaligus memperkuat posisi UIN SATU Tulungagung sebagai perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing global,” ungkapnya.
Berdasarkan kontrak penelitian MORA AIR FUND 2026, penelitian yang didanai merupakan penelitian multi-years yang akan dilaksanakan selama dua tahun, sehingga memberikan kesempatan kepada tim peneliti untuk menghasilkan luaran yang lebih komprehensif, berkualitas, serta memiliki dampak akademik dan sosial yang berkelanjutan.
Tim peneliti yang mengusung inovasi BABAD terdiri atas para akademisi dengan latar belakang keilmuan yang kuat. Tim dipimpin oleh Dr. H. Ahmad Nurcholis, M.Pd., yang akrab disapa Dr. Ois, dengan anggota Prof. Dr. H. As’aril Muhajir, M.Ag., Dr. H. Bobby Rachman Santoso, M.S.I. sebagai asisten peneliti, serta Syaikhu Ihsan Hidayatul, M.Pd., mahasiswa Program Doktor UIN SATU Tulungagung, sebagai administrator penelitian. Melalui sinergi keilmuan, kreativitas, serta komitmen yang tinggi, mereka berhasil melahirkan sebuah gagasan inovatif yang diberi nama BABAD.
BABAD (Buku Ajar Bahasa Arab Digital) merupakan inovasi pembelajaran bahasa Arab berbasis teknologi digital, cerita rakyat dan permainan tradisional di wilayah nusantara, yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pendidikan abad ke-21. BABAD menghadirkan bahan ajar yang interaktif, adaptif, mudah diakses, dan mendukung implementasi pembelajaran bahasa Arab yang lebih efektif. Pengembangan BABAD diharapkan mampu menjadi referensi nasional dalam pembelajaran bahasa Arab digital, sekaligus memperkuat transformasi pendidikan Islam berbasis teknologi di lingkungan PTKIN maupun lembaga pendidikan Islam secara lebih luas.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak yang telah memberikan kepercayaan, arahan, serta pendampingan selama proses seleksi. Tim BABAD menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Menteri Agama Republik Indonesia, Kapuspenma Kementerian Agama RI Dr. H. Ruchman Basori, M.Ag., LPDP, MORA AIR FUND, Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Direktur Pascasarjana UIN SATU Tulungagung Prof. Dr. H. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I, Wadir Prof. Dr. Erna Iftanti, S.S., M.Pd, LP2M UIN SATU Tulungagung, Prof. Dr. H. As’aril Muhajir, M.Ag., Dr. H. Bobby Rachman Santoso, M.S.I., Syaikhu Ihsan Hidayatul, M.Pd., serta seluruh pihak yang telah memberikan doa, dukungan, dan kontribusi dalam proses penyusunan proposal hingga penetapan sebagai awardee.
Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sivitas akademika UIN SATU Tulungagung untuk terus mengembangkan budaya riset yang unggul, kolaboratif, dan inovatif. Di masa mendatang, BABAD diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, memperkuat reputasi akademik UIN SATU Tulungagung di tingkat nasional maupun internasional, serta mendukung terwujudnya visi kampus Religreen yang unggul dalam integrasi keilmuan, nilai-nilai keislaman, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Keberhasilan Tim BABAD menjadi bukti bahwa kerja keras, kolaborasi, dan semangat inovasi akan selalu melahirkan karya terbaik. Semoga capaian ini menjadi awal dari lahirnya berbagai penelitian strategis yang membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan kemajuan pendidikan tinggi Islam di Indonesia. (hib)
